Talas Jepang Satoimo, Komoditi Pangan Bernilai Ekspor

Talas Jepang Satoimo, Komoditi Pangan Bernilai Ekspor 23 Desember 2015 12:40:57 Diperbarui: 23 Desember 2015 20:08:15 Dibaca : 2,267 Komentar : 12 Nilai : 11 Talas Jepang Satoimo, Komoditi Pangan Bernilai Ekspor Ilustrasi – talas (Shutterstock) Salah satu jenis komoditi pangan non beras yang saat ini mulai “ngetren” dan digalakkan di berbagai daerah karena memiliki nilai dan prospek ekonomi yang cukup bagus adalah Talas Jepang Satoimo (Colocasia esculenta var antiquorum) atau yang dikenal sebagai Taro Potato. Bahan pangan yang satu ini sekarang sudah menjadi salah satu bahan pangan utama bagi sebagian besar penduduk Jepang sebagai pengganti beras dan kentang, karena mereka menganggap beras dan kentang terlalu banyak mengandung karbohidrat dan gula, sehingga banyak warga Jepang yang mengalihkan konsumsi mereka pada jenis talas ini. Talas Jepang sebenarnya sudah masuk ke Indonesia sejak lama, yaitu pada masa pendudukan Jepang antara tahun 1942 – 1945. Keadaan rawan pangan yang melanda hampir seluruh wilayah Indonesia pada waktu itu, memaksa pemerintah pendudukan Jepang mendatangkan komoditi pangan asli negeri sakura itu ke negara kita, penduduk yang waktu itu masih terjajah kemudian dipaksa untuk menanam talas ini, bukan untuk memenuhi kebutuhan pangan bangsa yang dijajahnya, tapi untuk cadangan pangan bagi penduduk Jepang di negaranya, hanya talas dengan kualitas rendah saja yang kemudian bisa dikonsumsi oleh bangsa Indonesia. Gambar 1, drh Ahdar, MP, dengan latar belakang lahan ujicoba talas jepang di BDP Saree, Aceh (Doc. Ahdar) Setelah masa kemerdekaan, talas jepang kemudian dilupakan orang, karena memang bukan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia dan prospek pasarnyapun waktu itu tidak jelas, begitu juga di negara asalnya, tanaman penghasil bahan pangan ini juga tidak menjadi prioritas dalam pengembangan pertanian mereka. Baru pada era delapan puluhan, pemerintah Jepang kembali menggalakkan penanaman komoditi ini setelah adanya berbagai penelitian yang membuktikan bahwa talas jepang tidak saja bisa menjadi bahan pangan alternatif yang mengandung protein dan kalori tinggi tapi memiliki kandungan karbohidrat dan gula yang rendah, sehingga aman dikonsumsi oleh penderita atau mereka yang berpotensi diabetes, disamping memiliki manfaat selain sekedar sebagai bahan pangan. Gambar 2, Talas jepang Satoimo dapat dikonsumsi dalam keadaan mentah (Doc. Ahdar) Berbeda dengan jenis talas lainnya, talas jepang satoimo selain bisa diolah menjadi pangan olahan pengganti kentang dan terigu seperti tart, kue kering, pie atau makanan ringan, talas jenis ini bisa dikonsumsi langsung dalam keadaan mentah, rasanya yang mirip-mirip dengan salak pondoh membuat sebagian orang menyebutnya keladi salak. Kalau anda pernah mencicipi oleh-oleh dari Jepang berupa Taro Snack atau pie Genji Taro, itu merupakan contoh dari pangan olahan yang berbahan dasar talas jepang satoimo. Disamping menjadi bahan pangan alternatif bahkan pangan utama warga Jepang, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa talas jepang memiliki kandungan Hyalitrotic Acid yang merupakan senyawa pembentuk Collagen, salah satu jenis protein yang diyakini bisa memperlambat proses penuaan kulit. Tepung talas jepang juga banyak dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan berbagai kosmetik, terutama kosmetik untuk perawatan kulit. Awalnya, produksi talas yang dihasilkan oleh pertanian di Jepang mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri mereka, tapi seiring dengan meningkatnya permintaaan dan semakin menyempitnya lahan pertanian di Negara itu, mereka mulai kekurangan pasokan talas jepang ini. Dari data Economic Review (2010), kebutuhan talas jepang di negeri sakura pada tahun 2010 mencapai 380.000 ton, sementara lahan pertanian meea hanya mampu menghasilkan sekitar 250.000 ton per tahun, masih ada kekurangan 130.000 ton. China adalah negara pertama yang kemudian melirik peluang ini, merekapun mulai mengembangkan komoditi ini pada tahun 2006 yang lalu, dan pada tahun ini mereka sudah berhasil mengekspor tidak kurang dari 60.000 talas ke Jepang. Namun demikian produk dari negeri tirai bambu itu belum juga mampu memenuhi permintaan pasar di Jepang. Konsorsium Satoimo dibawah koordinasi Japan Fonundation, yang selama ini mengendalikan pasar talas jepang, kemudian melirik Indonesia yang memiliki potensi lahan yang sangat luas untuk mengembangkan komoditi ini di Indonesia. Uji coba penanaman talas jepang kemudian dilakukan di berberapa daerah seperti Buleleng dan Tabanan di Provinsi Bali, Bantul di Yogyakarta dan beberapa daerah lainnya. Di provinsi Aceh, pengembangan talas jepang dimulai pada tahun 2014 yang lalu di daerah Aceh Besar, meski dengan luas tanam yang masih terbatas. Salah satu sosok yang gigih memasyarakatkan penanaman talas jepang ini di provinsi Aceh adalah drh. Ahdar, MP yang juga Kepala Balai diklat Pertanian Aceh di Saree. Areal lahan praktek BDP Saree yang cukup luas itu kemudaian dijadikan sebagai lahan ujicoba pengembangan talas jepang ini. Selain di Saree, menurut Ahdar, talas jepang juga sudah mulai dibudidayakan di beberapa kecamatan di kabupaten Aceh Besar bahkan beberapa diantaranya sudah panen. Gambar 3, Hasil panen talas jepang (Doc. Ahdar) Masih sangat besarnya peluang ekspor talas jepang, membuat Ahdar dan kawan-kawannya bersemangat untuk terus mengembangkan komoditi pangan alternative ini di Aceh, dia juga sudah mulai mengajak rekan-rekannya di beberapa kabupaten seperti Aceh Utara, Aceh Barat Daya, Aceh Timur dan beberapa daerah lainnya di Aceh untuk mengembangkan komoditi ini. Pangsa pasarekspor ke Jepang lebih dari 50.000 ton per tahun merupakan peluang yang luar biasa untuk mengangkat perekonomian petani. Saat ini volume ekspor talas jepang dari Indonesia yang sebagian besar dipasok oleh Kabupaten Buleleng, Bali belum mencapai 10.000 ton, ini artinya peluang pasar ekspor komoditi ini bagi Aceh dan daerah lainnya masih terbuka lebar. Gambar 4, Lahan pengembangan talas jepang di kabupaten Aceh Besar (Doc. Ahdar) Dari pengalamannya mendampingi petani membudidayakan talas jepang di Aceh Besar, setiap hektar mampu menghasilkan 30 sampai 35 ton talas jepang, sedangkan harga yang dipatok oleh eksportir sebesar Rp 4.000,- per kilogramnya, itu artinya setiap hektar lahan pengembangan kooditi ini mampu menghasilkan pemasukan bagi petani antara 120 sampai 140 juta rupiah, jika dikurangi dengan biaya produksi sekitar 55 juta per hektar, petani masih mendapatkan keuntungan 65 sampai 85 juta, sebuah prospek ekonomi yang sangat bagus. Gambar 5, Tampilan fisik tanaman Talas Jepang Satoimo (Doc. Ahdar) Talas jepang memang berbeda dengan talas jenis lainnya, yang selama ini nyaris dipandang “sebelah mata” oleh petani karena harga pasarnya yang sangat rendah, tapi talas Satoimo adalah talas “dewa” yang harga pasarnya di Jepang bisa membuat kita tercengang. Tingginya permintaan pasar Jepang atas komoditi ini, mestinya jadi motivasi bagi para pihak untuk terus meningkatkan areal pertanaman dan produktivitas talas jepang. Sebuah peluang usaha tani yang sangat menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan petani yang perlu untuk terus dikembangkan, kalo tidak, selain China, petani di Vietnam dan Malaysia, juga sudah siap untuk merebut pangsa pasar tersebut.

You may also like...

1 Response

  1. ariffadilah says:

    dibanyuwangi banyak talas belum tau ma di jual kemana sapa tau ada yang minat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *